Tampilkan postingan dengan label sutopo yuwono's poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sutopo yuwono's poem. Tampilkan semua postingan

Rabu, Maret 02, 2011

Oathed (1)

Wajah merasa marambat jagad raga
Hembusan angin pagi membelai dua kesadaran yang terjaga
Azan tadi meramaikan telinga yang sejatinya meninabobokan aku dan dia
Beranjak menggapai ruh yang masih terpisah

Dulu, getaran itu mendekap seluruh
membasuh seluruh tubuh,ruh dan nafs di Alam Malakut-Mu
saat bersaksi di altar Rabb patuh penuh
membawa misi hidup dengan menutup pintu ragu

Kini, baju dunia begitu memancarkan asa mempesona
gemerlap perangkap yang tiada habisnya
membelah keyakinan titian cita "qoolu bala syahidna"
Ya, Rabb aku dimana?


Terbitkan Entri

Selasa, Januari 05, 2010

Kamu Ada Dimana?

Lelaki itu memandang rembulan berjubah mega
berselimut tipis menghijab wajah nan merona
Ada ombak berdesir manja
Ada samudra membentang asa
:kamu dimana ?

Perempuan itu menatapi jam tangannya
hidangan di depan matanya menunggu doa
Ada kucing yang mondar-mandir menikmati harumnya aroma
Ada gelisah merambat dalam detak tanya
: kamu dimana?

Sepasang lelaki dan perempuan itu dalam perahu memperhatikan air lautan
deras laju mengusik rangkaian cermin masa depan
Ada keindahan cahaya bulan dalam ombak yang tenang
Ada kegaduhan dan ketakutan dalam tsunami samudra kehidupan
: lantas, kamu ada dimana?





Terbitkan Entri

Senin, Juni 08, 2009

Entahlah, Kenapa Prita...

Entah, kenapa Tuhan berikan sakit itu pada Prita
Entah, kenapa Agustus 2008 itu kakinya melangkah ke sana

RS International megah ada indikasi memberikan diagnosis yang berubah
sehingga ia ngotot minta hasil rekam medisnya
namun, mereka tak jua memberikan hak yang dipinta
keluh kesahnya melalui email ke rekan sejawat menjadi petaka

Entah, kenapa mereka itu meradang menerima keluhan
Tidak cukup hak jawabnya di koran sebagai bantahan
Dilanjutkan! ke ranah hukum karena pencemaran
Lebih cepat lebih baik bila ibu muda ini dibui di lembaga pemasyarakatan

Entah, kenapa hukum tak berhati nurani
menyuarakan hak yang berujung ke terali besi
seolah telah mati toleransi komunikasi di negeri ini
jangan..jangan lagi terjadi...

Prita, sang malaikat yang malang
kepiluan dalam dunia layanan pelanggan yang makin tak terkesan
menyeruak dalam kisah arogansi kekuasaan
semoga membuka mata hati kesadaran...
hukum bukanlah akhir dari segala kebenaran...
semoga ada jalan keluar dan hati nurani menemui keadilan...

Senin, April 20, 2009

Emansipasi Mencari Arti...

Udara lembab; peluh mengembun basah
130 tahun lalu seorang bayi menghembuskan asa
"Habis Gelap, Terbitlah Terang"
putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara
dan Ibu M.A. Ngasirah...

Menanamkan nilai-nilai Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan
Nasionalisme serta peri kemanusian
Saat kelam hijab emansipasi akan ilmu pengetahuan
Saat nasib perempuan masih ada di pojok-pojok pendopoan
Seorang perempuan menebarkan benih keterbukaan

25 tahun usia cukup sudah
meninggalkan dunia fana dengan semangat membara
mendudukan wanita pada kodrat dan sumbangsihnya
lelaki-perempuan sama derajat dalam berbakti kepada negara dan masyarakatnya
Ibu kita Kartini sudah mencapai cita-citanya...

Sekarang ini, Kartini menatap kebebasan diri
Sekarang ini, Kartini melakukan pekerjaan lelaki
Sekarang ini, Kartini menjadi suami
Sekarang ini, Kartini di atas mimpi
:RA Kartini hanya membisu menerawang gagasannya 125 tahun yang lalu..

Senin, Maret 09, 2009

Let It Be

Merona wajah menyapa bayang yang dulu pernah singgah
menghitung langkah-langkah; hati yang melulu gundah
menunggu dalam maya atau mewujudkannya dalam realita?
ah, keberanian itu selalu luluh setiap menatap kedua mata nan indah
Tuhan membiarkannya berlalu sudah...

21 tahun tertutup rapat di sudut napas terdalam
mempertanyakan asa yang dibiarkan terpendam
kenapa tak pernah bisa diutarakan dalam nyanyian rembulan
yang dapat memancarkan kelembutan mojang priangan
ah, Tuhan membiarkan lamunan kasmaran...

Hari ini darah ini seperti berhenti
mendengar langsung suara yang selalu dinanti
bagai sapuan angin mamiri memanja hati
Oh, Tuhan biarkan waktu sejenak berhenti dan biarkan aku lupa diri..
ah, Tuhan membiarkan semua bertawaf dalam sunah ilahi...

Terdampar gelisah dimana ruang dan waktu hanya terpana
titik-titik embun sudah membasahi sajadah; dingin membasuh wajah nan gulana
azan subuh mulai menyapa mengingatkan seorang khalifah haruslah berguna
tapi tak bisakah kusimpan seluruh gita agar tak percuma
membagi kisah cita yang dulu pernah ada
agar penasaran tak lagi mendera sepanjang masa
Ya, Tuhan biarkanlah kali ini saja...
agar kebenaran mendekap jasad dan ruh yang bahagia

citragraha@10032009/sy

Kamis, Januari 15, 2009

Mayang Sebahu

Malam baru merangkak gaduh
Di luar langit hitam-putih tak ada biru
Suara-suara mobil-motor satu-satu menderu
Merasuk hati berdegub seru
:Mayang sebahu paras putih melantun lagu sendu
Merajuk mengurai pandangan sedih mengadu
Tersenyum kelu melihatmu tak jua luluh
Nafas ragu menerjang sungguh


Awan mulai menaburkan gerimisnya
Dingin malam terasa mulai membelai manja
Tepuk tangan merajah wajah yang basah
Berulang sesal asa yang menari-nari di atas kepala
:Tuhan, kenapa Kau biarkan dunia menjadi panglima
Menyeret jasad dalam nafsu amarah
Meninabobokan akal nurani dan hasrat bertemu diri
Ajarkanku mati sebelum mati...

Dalam diri ada kitab suci mengikuti
Sebagai hidayah dan taufik yang dianggap sepi
Melantunkan indahnya surga abadi
Mengelegarkan rajaman neraka siksa pedih
:Tuhan, materi begitu di depan mata
Bijak berakata Ilmu tanpa amal tiadalah guna
Tapi ego berdebat hebat mengutip sepenggal petuah ulama
Rezeki dunia nikmatilah ;jangan disia-sia...

Malam makin tinggi mengharap berjumpa cahaya bulan bintang
Tertatih mencari jalan dalam gelap terbentang
Bisakah Kau pinjamkan (lagi) lilinMu
Untuk menitih shirat kembali padaMu
Sebelum ruh, nafs dan jasad berpisah menemui hisabMu...

Mayang sebahu menerawang ke langit-langit mushola
Menutup mahkotanya dengan mukena
Tatapannya berhenti di tengah mimbar bertulis "Allah"
Seluruh pori-pori tubuhnya terbuka pasrah
Bersyahadat tersendat menahan gumpalan hebat dalam dadanya
Meleleh genangan air dalam kelopak matanya...

Minggu, Desember 14, 2008

Why You have Gone...

Lima Puluh tujuh hari
Geliat semangat gundah melayani
20 Oktober 2008 cahaya visi mendadak pergi
Tinggalkan kebingungan dan cercaan sakit hati
Kenapa Tuan biarkan kami menanggung luka itu sendiri
Kenapa Tuan menari di gelap sepinya sunyi ini
Kenapa masalah Tuan-Tuan harus membenamkan karsa dan asa kami

Melangkah di jalan berjelaga tanpa peta arah
Menatap cinta yang makin memudar pasrah
Melihat sekeliling sahabat yang bersikap terserah :
Menunggu kepastian tanpa jerah
Atawa pergi dengan marah

Why you have gone
when together we shone
leading a market where competition had never been known
Now, still waiting for everybody won by their own...

Kamis, November 13, 2008

Still Fighting

Merangkak aku menuju-Mu
dalam gelap termanggu menjalar resah menderu
ku lalui kelima rukun yang diseru
fatamorgana nirvana tergenggam kaku
:sudahkan ini milikku?
mendadak rasa dan karsa ini jadi tak menentu
kala dunia meninabobokan jiwa yang terbuai lugu
kala yang hak dan yang batil menjadi satu
: Panglima hati, kenapa pakaianmu bertambah lusuh...

sutopo yuwono : citragraha, 14 Novemebr 2008